Archive for October 10th, 2008

10
Oct

Jeritan Hati Seorang RUPIAH

Rupiahku sayang, rupiah ku malang

Jeritan Hati Seorang RUPIAH

Mengapa hatimu bimbang

Bukankah sudah pasti badai pasti berlalu

Dan kabut mendungpun kan membiru

Membawa cahaya langit Sudirman dan Thamrin Jakarta

Bukankah sudah kita tahu betul

Dalam dua blok ini rupiahku terseok-seok

Malu-malu berhadapan dengan dolar

Sementara menggejala bahwa tarik menartik, turun naiknya tangga kursmu

Dulu selembar dolar untuk sepiring nasi

Sekarang selembar dollar untuk dua bakul nasi

Sungguh aku belum mau pindah kelain hati

Aku masih setia padamu

Menunggumu dititik-titik kritismu

Aku percaya rupiah belum sekarat

Masih tampak denyutnya biar samar-samar

Tapi sebagaimana Zinedine Zidan

Sebagai mana PSSI, aku masih cinta kamu rupiah

Nasib kita sama. Rupiah

Kita orang-orang awam yang terjepit kuasa

Nasib kita sama. Rupiah

Seperti juga mandulnya DPR kita yang tak berdaya biladatang bonus tiba-tiba

Nasib kita sama. Rupiah

Kita dijadikan alat saja untuk mengongkosi Doku-Men—Doku-Men bisnis yang selalu ramah dengan monopoli

Siapa bilang kau milik konglomerat nyatanya mereka punya selir di Singapura, bukan disingaparna

Jangan kelu bilang ….rrrru,,piah, sedangkan bilang dollar hapal diluar kepala beserta seri-serinya

Rupiah katakan rupiah, rupiah apa obatmu yang mujarab rupiah, agar kau bangun kembali tidak koma seperti saat ini.

Sudah waktunyakah reformasi politik

Kalau benar apa kata mills ; kekuasaan politik membawa implikasi kekuasaaan ekonomi, lebih baik engkau yang kuangkat menjadi pemimpin politik, rupiah. Sebab engkaulah yang berkuasa rupiah.

Rupiah selama ini kau sendiri tak setia pada kami rakyat-rakyat kecil ini.

Tak konsisten pendirianmu rupiah

Kini mau tidak mau kami juga yang menanggungnya

Bukan lantaran tiba-tiba kami jatuh cinta ini semua lantaran kami sengsara melihat ibu-ibu kami mengantri mencari nasi.

Rupiah, oh, rupiah.

Dulu kau selalu berpihak pada golongan itu-itu lagi

Sekarang mana buktinya, kalau mereka setia padamu

Rupiah. Akhirnya kau terjebak dalam keterisolasian yang menyebabkan kemandekan rupiah.

Okelah, kami akan membantu mu rupiah.

Tapi kobarkan semangatmu dulu rupiah, rapihkan barisan komitmenmu, tancapkan keyakinan diri yang mandiri

Bahwa kalau semua orang bisa punya rupiah

Tukarkan dolar-dolar dikantongmu dengan dirimu sendiri rupiah

Sebelum cerita jadi benci

Titipkan salam

Bahwa kami cinta kau rupiah.

Meski kami tau kau tidak cinta kami

Orang-orang kecil.. yang mengais mencari sesuap nasi bersama jeritanmu RUPIAH.

Bukit Tinggi

September 1997

Memoar ketika dalam perjalanan diseputaran Kota Bukit Tinggi Nan Indah, ketika bersama sekawan bersama melakukan Penelitian Pariwisata Atas Undangan Gubernur Sumbar. Hampir satu Bulan disana menikmati hisapan alam nan sejuk, menyaksikan hamparan alam Ngarai Sihanok, Jam Gadang dan tak luput menonton pertunjukan saluang (suling) di Medan Nan Balinduang yang tak jauh dari tempat kami bermukim di Istana Bung Hatta, singgah di berbagai Danau-danau besar melewati kelok ampe-ampe… wuih.. indah nian hamparan Indonesia….Insya Allah Banten Harus punya yang seperti Bukit Tinggi…….setidaknya Wisata adalah sumber daya yang tak ada habisnya bukan laksana dikuras seperti kekayaan alam.